Kamis, 13 November 2014

Hacker Korut Serang Korsel dengan Malware Game Mobile



Liputan6.com, Seoul - Badan intelijen Korea Selatan mengklaim telah menemukan indikasi serangan cyber yang dilancarkan oleh negara tetangga mereka, Korea Utara. Menurut pihak Korsel, tentara cyber Korut telah menyusupkan malware jahat ke sekitar 20 ribu ponsel milik warga Korsel melalui sebuah aplikasi game mobile.

Laporan The Korea Times menyebutkan, pemerintah Korsel meyakini bahwa sebuah game mobile yang ditawarkan melalui situs game populer telah menjadi alat retas tentara cyber Korut. Belum diketahui apa sebenarnya fungsi malware yang tertanam dalam game mobile tersebut. Namun besar kemungkinan fungsinya adalah memata-matai dan mencuri data pribadi para pengguna ponsel di Korsel.

Meski tak disebutkan secara gamblang apa judul game yang dijadikan Korut sebagai media peretasan, namun laman nknews.org mendapatkan bocoran bahwa game mobile tersebut bertajuk 'Nice Pigs'. Kecurigaan terhadap Nice Pigs semakin menjadi-jadi ketika diketahui bahwa pengembang game mobile tersebut adalah seorang berkewarganegaraan Korut.


Pihak Korut sendiri dengan tegas telah membantah tuduhan ini. Mereka justru menuduh balik Korsel yang dinilai hanya ingin memperkeruh hubungan kedua negara tetangga tersebut.

Sumber : Liputan 6

Indonesia Jadi Negara Paling Rawan Serangan Cyber



Liputan6.com, Bandung - Menurut data yang dirilis HP Security, kasus kejahatan cyber diberbagai penjuru dunia telah meningkat sebesar 96% selama lima tahun terakhir. Tipe serangan yang mengancam para pengguna internet pun semakin beragam dan sulit untuk dideteksi.

Sementara di Indonesia, pada data akhir tahun 2013 yang dipublikasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoninfo) tercatat ada lebih dari 1,2 juta serangan cyber yang terjadi di sepanjang tahun 2013, atau setara dengan 42 ribu serangan dalam sehari.

Studi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan target serangan cyber terbesar di dunia, bersama dengan Amerika Serikat dengan 332 ribu serangan (11 ribu per hari) dan Tiongkok sebanyak 151 ribu (5 ribu serangan per hari).

Guna menanggapi kondisi tersebut, Indonesian Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (Id-SIRTII) menggelar acara tahunan mengenai kemanan jaringan internet yang berlangsung selama tiga hari (3-6 November) di Bandung.

Acara ini akan melingkupi 3 sesi, yaitu seminar dan paparan hasil riset terbaru Id-SIRTII mengenai tren keamanan internet untuk hari pertama. Di hari kedua digelar kompetisi hacking 'National Cyber Security Competition'. Dan pada hari ketiga adalah 'National Internet Security Day (NISD) 2014' yang sekaligus menjadi puncak dari rangkaian kegiatan ini.

"Keamanan sistem informasi memerlukan perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Untuk itu, kami mengundang audiens dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, praktisi dan industri untuk duduk bersama berbagi pengalaman, strategi dan inisiatif guna menyelesaikan berbagai isu di bidang network security," ujar Ketua Id-SIRTII, Rudi Lumanto, dalam keterangan resminya.

Acara ini juga didukung oleh Virtus Technology Indonesia (Virtus), selaku penyedia solusi infrastruktur TI. Virtus yang merupakan anak perusahaan dari Computrade Technology International (CTI Group) sendiri diketahui telah cukup lama berkecimpung dalam pengembangan industri keamanan internet melalui kerjasama dengan berbagai principal seperti Sophos, Checkpoint, Thales dan HP Security.

Di acara kali ini Virtus khusus menghadirkan solusi enterprise security HP Tipping Point yang akan diaplikasikan pada babak final National Cyber Security Competition.

Sumber : Liputan 6

Snowden: Hindari Dropbox, Facebook dan Google



Liputan6.com, Jakarta - Pembocor rahasia badan intelijen Amerka Serikat (NSA), Edward Snowden, kembali berbicara soal ancaman pelanggaran privasi yang mengintai para pengguna internet. Kali ini ia menyarankan bagi para pengguna yang peduli akan hak privasi untuk menghindari penggunaan layanan yang disediakan oleh Dropbox, Facebook dan Google.

Pernyataan tersebut ia lontarkan pada acara Yorker Festival. Pada kesempatan itu Snowden berbicara pada para audiens melalui web cam dari tempat tersembunyi. Ia menjelaskan, bahwa persoalan perlindungan privasi di internet sepenuhnya adalah tanggung jawab kebijakan pemerintah.

Snowden berkeyakinan bahwa reformasi kebijakan pemerintah adalah satu-satunya jalan yang akan membebaskan para penyelenggara layanan dari kewajiban 'membocorkan' informasi pribadi penggunanya. Pemerintah seharusnya tidak memiliki hak untuk meminta bocoran informasi dari para penyedia layanan, termasuk pada Dropbox, Facebook, maupun Google.

"Kita harus bisa membuat sebuah program rahasia yang tak terjamah pemerintah. Jika tidak, Anda pasti tahu jangkauan kekuasaan pemerintah dan bagaimana mereka dapat menggunakannya dengan baik," papar Snowden.

Menanggapi pernyataan Snowden, Dropbox melalui bolg resmi mereka mengkonfirmasi bahwa pihaknya tidak pernah bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pembocoran informasi pribadi pengguna.

"Semua file yang disimpan dan diambil melalui layanan Dropbox telah dienkripsi, baik saat dikirimkan dari pelanggan, maupun yang dikirimkan dari server kami. Termasuk ketika mereka 'beristirahat' di server kami," tulis Dropbox di blog resmi mereka seperti yang dilansir laman Techcrunch, Kamis (6/11/2014).

Sebelumnya Google, Facebook, Apple, Microsoft, dan masih banyak lagi perusahaan teknologi lainnya juga telah mengatakan bahwa mereka tidak menjalin kerjasama apaupun dengan pemerintah terkait 'pembocoran' data pribadi pengguna.

Bahkan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut pun ramai-ramai melancarkan protes pada NSA karena diduga telah secara diam-diam memata-matai layanan mereka.

Sumber : Liputan 6

1 Dari 8 Netizen Tak Percaya Ancaman Internet




Liputan6.com, Jakarta - Menurut sebuah survei terbaru yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, 13% atau 1 dari 8 pengguna internet (netizen) tidak percaya bahwa serangan cyber itu nyata. Mereka merasa bahwa ancaman tersebut terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan keamanan internet.

Ketidakpercayaan ini membuat mereka tidak memiliki perlindungan apapun terhadap risiko yang mengancam data mereka dan kehidupan maya setiap hari. Menurut statistik, pengguna internet yang memahami bahwa ancaman cyber adalah hal nyata bahkan tidak yakin mereka membutuhkan perlindungan terhadap ancaman ini.

Secara khusus, hanya 22% netizen yang percaya bahwa mereka dapat menjadi target penjahat cyber. Namun, pada kenyataannya setiap perangkat pengguna bisa menjadi target yang menarik bagi penjahat cyber.

Hampir sepertiga atau 32% dari netizen yang tidak merasa khawatir bahwa rekening online mereka bisa dikompromikan, atau bahkan tidak menyadari risiko ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah hal ini tidak hanya terjadi di akun pribadi mereka di jejaring sosial, tetapi juga di rekening perbankan online pribadi.

Sementara 42% dari netizen tidak menyadari atau tidak khawatir tentang kemungkinan kerugian tersebut. Satu hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa kerugian tersebut bukan berupa pencurian uang secara langsung dari rekening bank mereka.

"Para pengguna internet yang percaya bahwa diri mereka aman karena para penjahat cyber tidak akan mengganggu mereka dan tidak tertarik terhadap mereka menunjukkan bahwa para pengguna internet tidak memahami sifat dari ancaman online tersebut," kata Elena Kharchenko, Kepala Manajemen Produk Konsumen Kaspersky Lab melalui keterangan resminya, Sabtu (8/11/2014).

Bukan itu saja, 20% netizen juga tidak menyadari bahwa menggunakan jaringan Wi-Fi publik itu berisiko karena data yang dikirim melalui jaringan tersebut dapat dicegat oleh penjahat cyber. Sedangkan 27% lainnya menyadari ancaman ini tetapi tidak percaya bahwa mereka perlu merasa khawatir tentang hal itu.

Pada saat yang sama, 55% netizen tetap menggunakan jaringan publik, 12% bahkan memasukkan identitasnya ke dalam website, dan 6% melakukan pembayaran online saat terhubung ke jaringan publik.

Sumber : Liputan 6

Situs Reservasi Hotel Booking.com Disusupi Hacker




Liputan6.com, London - Hacker dilaporkan berhasil mencuri sekitar 10 ribu rincian data pribadi para pengguna situs reservasi Booking.com asal Inggris. Sebagian besar pereservasi hotel tersebut ditipu menggunakan metode scaming melalui email palsu yang dinavigasi oleh kelompok peretas.

Hacker mengirimkan email palsu berisi konfirmasi pemesanan hotel kepada para pengguna dan meminta mereka untuk segera membayarkan biaya pemesanan. Sejumlah pengguna telah telah tertipu dan menjadi korban. Salah satunya adalah seorang pengguna asal London bernama Claire Coldwel.

Menurut keterangan Coldwel yang dilansir laman Mirror, ia menerima email balasan setelah melakukan pemesanan kamar hotel untuk rekan kerjanya melalui Booking.com. Dalam email balasan itu disebutkan bahwa Coldwel telah melakukan reservasi satu unit kamar di salah satu hotel milik grup Hilton dan diwajibkan membayarkan segera biaya pemesanannya sebesar 3 ribu poundsterling.

"Email yang dikirmkan seperti asli. Di dalamnya terdapat segala hal detail seperti nomor reservasi, nama-nama tamu dan logo yang terpampang juga tampak akurat," papar Coldwel.

Pihak Booking.com sendiri telah mengkonfirmasi bahwa sistem kerja situs mereka tidak pernah meminta pembayaran pemesanan kamar hotel di muka. Melainkan pembayaran dilakukan langsung oleh pemesan di hotel tujuan.
 Sumber  : Liputan 6

Web Counter

data:label.url#sthash.GLqU6doX.dpuf