Kamis, 13 November 2014

iCloud Diretas Hacker, Tim Cook Datangi Pemerintah Tiongkok



Liputan6.com, Beijing - Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa otoritas Tiongkok tengah melakukan upaya penyusupan ke layanan penyimpanan berbasis awan milik Apple, iCloud. Menurut situs keamanan Greatfire.org, peretasan ini dilakukan sebagai usaha Tiongkok untuk mencuri password dan username pengguna iCloud di Tiongkok.

Mendengar permasalahan ini, CEO Apple Tim Cook dilaporkan langsung mengambil tindakan tegas. Laman Mashable, Kamis (23/10/2014), melansir bahwa Cook telah menggelar pertemuan khusus dengan perwakilan pemerintah Tiongkok untuk membahas kabar peretasan iCloud tersebut.

Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Ma Kai, menjadi perwakilan pemerintah yang ditugaskan untuk bersua Cook.


Disebutkan ada dua topik pembahasan serius yang dibicarakan kedua belah pihak. Keduanya meliputi topik perlindungan data pengguna dan kerjasama di sektor pemasaran perangkat. Namun sayang, detail pertemuan antara Cook dan Ma Kai tidak dipublikasikan secara luas.

Sebelumnya situs keamanan Greatfire.org mengabarkan bahwa otoritas Tiongkok meng-hack iCloud agar mereka bisa mendapatkan bocoran pesan, foto mau pun berbagai informasi lain yang disimpan warga negara Tiongkok di layanan iCloud.

Penyusupan itu dilakukan dengan cara membuat sistem 'penyadapan' di antara jalur komunikasi internet pengguna dan server iCloud. Tindakan ini membuat pengguna perangkat buatan Apple percaya telah terkoneksi ke layanan iCloud seperti biasanya meskipun sebenarnya mereka telah dialihkan ke server lain.

Sumber : Liputan 6

`Virus Ebola` juga Jangkiti Komputer



Liputan6.com, Jakarta - Virus Ebola tidak saja membuat panik dunia kesehatan, melainkan juga dunia teknologi. Tentunya bukan virus medis Ebola yang menyerang dunia teknologi, akan tetapi telah muncul sebuah malware baru bernama 'Ebola Virus' yang dikabarkan telah menyerang banyak komputer.

Menurut yang dilaporkan laman The Verge, penyebaran malware Ebola ini melalui email. Banyak pengguna yang menginformasikan bahwa mereka mendapatkan sebuah email yang diklaim dari World Health Organization (WHO). Di dalamnya menawarkan bantuan dan nasihat tentang tata cara menanggulangi virus Ebola.

Namun jangan sekali-sekali berani untuk membuka email tersebut. Jika dibuka, malware akan langsung menyebar di komputer Anda. Bahayanya, jenis malware ini diyakini memungkinkan para hacker untuk mengakses berbagai data pribdai yang ada di komputer Anda. Khususnya data-data yang berhubungan dengan transaksi finansial.

"Sudah lumrah penjahat cyber memanfaatkan peristiwa besar, bencana dan wabah untuk memikat calon korban dan menyebarkan malware mereka,” kata seorang ahli dari lembaga kemanan Spiderlabs Trustwave.

Lebih lanjut pihak Spiderlabs Trustwave menjelaskan, malware Ebola menjadi begitu merepotkan karena keberadaannya tidak terdeteksi oleh software anti virus. Para pengguna diharap waspada dan melakukan tindak pencegahan dengan tidak sembarang membuka email dari pihak asing.

Sumber : Liputan 6

Hacker Korut Serang Korsel dengan Malware Game Mobile



Liputan6.com, Seoul - Badan intelijen Korea Selatan mengklaim telah menemukan indikasi serangan cyber yang dilancarkan oleh negara tetangga mereka, Korea Utara. Menurut pihak Korsel, tentara cyber Korut telah menyusupkan malware jahat ke sekitar 20 ribu ponsel milik warga Korsel melalui sebuah aplikasi game mobile.

Laporan The Korea Times menyebutkan, pemerintah Korsel meyakini bahwa sebuah game mobile yang ditawarkan melalui situs game populer telah menjadi alat retas tentara cyber Korut. Belum diketahui apa sebenarnya fungsi malware yang tertanam dalam game mobile tersebut. Namun besar kemungkinan fungsinya adalah memata-matai dan mencuri data pribadi para pengguna ponsel di Korsel.

Meski tak disebutkan secara gamblang apa judul game yang dijadikan Korut sebagai media peretasan, namun laman nknews.org mendapatkan bocoran bahwa game mobile tersebut bertajuk 'Nice Pigs'. Kecurigaan terhadap Nice Pigs semakin menjadi-jadi ketika diketahui bahwa pengembang game mobile tersebut adalah seorang berkewarganegaraan Korut.


Pihak Korut sendiri dengan tegas telah membantah tuduhan ini. Mereka justru menuduh balik Korsel yang dinilai hanya ingin memperkeruh hubungan kedua negara tetangga tersebut.

Sumber : Liputan 6

Indonesia Jadi Negara Paling Rawan Serangan Cyber



Liputan6.com, Bandung - Menurut data yang dirilis HP Security, kasus kejahatan cyber diberbagai penjuru dunia telah meningkat sebesar 96% selama lima tahun terakhir. Tipe serangan yang mengancam para pengguna internet pun semakin beragam dan sulit untuk dideteksi.

Sementara di Indonesia, pada data akhir tahun 2013 yang dipublikasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoninfo) tercatat ada lebih dari 1,2 juta serangan cyber yang terjadi di sepanjang tahun 2013, atau setara dengan 42 ribu serangan dalam sehari.

Studi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan target serangan cyber terbesar di dunia, bersama dengan Amerika Serikat dengan 332 ribu serangan (11 ribu per hari) dan Tiongkok sebanyak 151 ribu (5 ribu serangan per hari).

Guna menanggapi kondisi tersebut, Indonesian Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (Id-SIRTII) menggelar acara tahunan mengenai kemanan jaringan internet yang berlangsung selama tiga hari (3-6 November) di Bandung.

Acara ini akan melingkupi 3 sesi, yaitu seminar dan paparan hasil riset terbaru Id-SIRTII mengenai tren keamanan internet untuk hari pertama. Di hari kedua digelar kompetisi hacking 'National Cyber Security Competition'. Dan pada hari ketiga adalah 'National Internet Security Day (NISD) 2014' yang sekaligus menjadi puncak dari rangkaian kegiatan ini.

"Keamanan sistem informasi memerlukan perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Untuk itu, kami mengundang audiens dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, praktisi dan industri untuk duduk bersama berbagi pengalaman, strategi dan inisiatif guna menyelesaikan berbagai isu di bidang network security," ujar Ketua Id-SIRTII, Rudi Lumanto, dalam keterangan resminya.

Acara ini juga didukung oleh Virtus Technology Indonesia (Virtus), selaku penyedia solusi infrastruktur TI. Virtus yang merupakan anak perusahaan dari Computrade Technology International (CTI Group) sendiri diketahui telah cukup lama berkecimpung dalam pengembangan industri keamanan internet melalui kerjasama dengan berbagai principal seperti Sophos, Checkpoint, Thales dan HP Security.

Di acara kali ini Virtus khusus menghadirkan solusi enterprise security HP Tipping Point yang akan diaplikasikan pada babak final National Cyber Security Competition.

Sumber : Liputan 6

Snowden: Hindari Dropbox, Facebook dan Google



Liputan6.com, Jakarta - Pembocor rahasia badan intelijen Amerka Serikat (NSA), Edward Snowden, kembali berbicara soal ancaman pelanggaran privasi yang mengintai para pengguna internet. Kali ini ia menyarankan bagi para pengguna yang peduli akan hak privasi untuk menghindari penggunaan layanan yang disediakan oleh Dropbox, Facebook dan Google.

Pernyataan tersebut ia lontarkan pada acara Yorker Festival. Pada kesempatan itu Snowden berbicara pada para audiens melalui web cam dari tempat tersembunyi. Ia menjelaskan, bahwa persoalan perlindungan privasi di internet sepenuhnya adalah tanggung jawab kebijakan pemerintah.

Snowden berkeyakinan bahwa reformasi kebijakan pemerintah adalah satu-satunya jalan yang akan membebaskan para penyelenggara layanan dari kewajiban 'membocorkan' informasi pribadi penggunanya. Pemerintah seharusnya tidak memiliki hak untuk meminta bocoran informasi dari para penyedia layanan, termasuk pada Dropbox, Facebook, maupun Google.

"Kita harus bisa membuat sebuah program rahasia yang tak terjamah pemerintah. Jika tidak, Anda pasti tahu jangkauan kekuasaan pemerintah dan bagaimana mereka dapat menggunakannya dengan baik," papar Snowden.

Menanggapi pernyataan Snowden, Dropbox melalui bolg resmi mereka mengkonfirmasi bahwa pihaknya tidak pernah bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pembocoran informasi pribadi pengguna.

"Semua file yang disimpan dan diambil melalui layanan Dropbox telah dienkripsi, baik saat dikirimkan dari pelanggan, maupun yang dikirimkan dari server kami. Termasuk ketika mereka 'beristirahat' di server kami," tulis Dropbox di blog resmi mereka seperti yang dilansir laman Techcrunch, Kamis (6/11/2014).

Sebelumnya Google, Facebook, Apple, Microsoft, dan masih banyak lagi perusahaan teknologi lainnya juga telah mengatakan bahwa mereka tidak menjalin kerjasama apaupun dengan pemerintah terkait 'pembocoran' data pribadi pengguna.

Bahkan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut pun ramai-ramai melancarkan protes pada NSA karena diduga telah secara diam-diam memata-matai layanan mereka.

Sumber : Liputan 6

Web Counter

data:label.url#sthash.GLqU6doX.dpuf