Kamis, 13 November 2014

1 Dari 8 Netizen Tak Percaya Ancaman Internet




Liputan6.com, Jakarta - Menurut sebuah survei terbaru yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, 13% atau 1 dari 8 pengguna internet (netizen) tidak percaya bahwa serangan cyber itu nyata. Mereka merasa bahwa ancaman tersebut terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan keamanan internet.

Ketidakpercayaan ini membuat mereka tidak memiliki perlindungan apapun terhadap risiko yang mengancam data mereka dan kehidupan maya setiap hari. Menurut statistik, pengguna internet yang memahami bahwa ancaman cyber adalah hal nyata bahkan tidak yakin mereka membutuhkan perlindungan terhadap ancaman ini.

Secara khusus, hanya 22% netizen yang percaya bahwa mereka dapat menjadi target penjahat cyber. Namun, pada kenyataannya setiap perangkat pengguna bisa menjadi target yang menarik bagi penjahat cyber.

Hampir sepertiga atau 32% dari netizen yang tidak merasa khawatir bahwa rekening online mereka bisa dikompromikan, atau bahkan tidak menyadari risiko ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah hal ini tidak hanya terjadi di akun pribadi mereka di jejaring sosial, tetapi juga di rekening perbankan online pribadi.

Sementara 42% dari netizen tidak menyadari atau tidak khawatir tentang kemungkinan kerugian tersebut. Satu hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa kerugian tersebut bukan berupa pencurian uang secara langsung dari rekening bank mereka.

"Para pengguna internet yang percaya bahwa diri mereka aman karena para penjahat cyber tidak akan mengganggu mereka dan tidak tertarik terhadap mereka menunjukkan bahwa para pengguna internet tidak memahami sifat dari ancaman online tersebut," kata Elena Kharchenko, Kepala Manajemen Produk Konsumen Kaspersky Lab melalui keterangan resminya, Sabtu (8/11/2014).

Bukan itu saja, 20% netizen juga tidak menyadari bahwa menggunakan jaringan Wi-Fi publik itu berisiko karena data yang dikirim melalui jaringan tersebut dapat dicegat oleh penjahat cyber. Sedangkan 27% lainnya menyadari ancaman ini tetapi tidak percaya bahwa mereka perlu merasa khawatir tentang hal itu.

Pada saat yang sama, 55% netizen tetap menggunakan jaringan publik, 12% bahkan memasukkan identitasnya ke dalam website, dan 6% melakukan pembayaran online saat terhubung ke jaringan publik.

Sumber : Liputan 6

Situs Reservasi Hotel Booking.com Disusupi Hacker




Liputan6.com, London - Hacker dilaporkan berhasil mencuri sekitar 10 ribu rincian data pribadi para pengguna situs reservasi Booking.com asal Inggris. Sebagian besar pereservasi hotel tersebut ditipu menggunakan metode scaming melalui email palsu yang dinavigasi oleh kelompok peretas.

Hacker mengirimkan email palsu berisi konfirmasi pemesanan hotel kepada para pengguna dan meminta mereka untuk segera membayarkan biaya pemesanan. Sejumlah pengguna telah telah tertipu dan menjadi korban. Salah satunya adalah seorang pengguna asal London bernama Claire Coldwel.

Menurut keterangan Coldwel yang dilansir laman Mirror, ia menerima email balasan setelah melakukan pemesanan kamar hotel untuk rekan kerjanya melalui Booking.com. Dalam email balasan itu disebutkan bahwa Coldwel telah melakukan reservasi satu unit kamar di salah satu hotel milik grup Hilton dan diwajibkan membayarkan segera biaya pemesanannya sebesar 3 ribu poundsterling.

"Email yang dikirmkan seperti asli. Di dalamnya terdapat segala hal detail seperti nomor reservasi, nama-nama tamu dan logo yang terpampang juga tampak akurat," papar Coldwel.

Pihak Booking.com sendiri telah mengkonfirmasi bahwa sistem kerja situs mereka tidak pernah meminta pembayaran pemesanan kamar hotel di muka. Melainkan pembayaran dilakukan langsung oleh pemesan di hotel tujuan.
 Sumber  : Liputan 6

Waspada, Hacker Curi 53 Juta Alamat Email!





Liputan6.com, Penyedia produk perbaikan rumah dan jasa konstruksi asal Amerika Serikat, Home Depot Inc., mengatakan hacker telah mencuri 53 juta alamat email para pelanggannya, di samping data kartu pembayaran yang diungkapkan sebelumnya.

Pihak Home Depot Inc. menuturkan bahwa hacker tersebut berhasil mengakses jaringan dari vendor pihak ketiga. Sementara penyedia jasa kontruksi lainnya, Atlanta, telah mengungkap salah satu kejahatan cyber terbesar, yang mempengaruhi 56 juta kartu debit dan kredit antara bulan April dan September 2014.
Berkaitan dengan hal ini Home Depot Inc. menghimbau agar para pelanggan waspada akan penipuan phishing. Namun hingga kini belum jelas siapa di balik dalang pencurian puluhan juta alamat email itu.

Kasus sebelumnya, hacker dilaporkan berhasil mencuri sekitar 10 ribu rincian data pribadi para pengguna situs reservasi Booking.com asal Inggris. Sebagian besar pereservasi hotel tersebut ditipu menggunakan metode scaming melalui email palsu yang dinavigasi oleh kelompok peretas.

Hacker mengirimkan email palsu berisi konfirmasi pemesanan hotel kepada para pengguna dan meminta mereka untuk segera membayarkan biaya pemesanan. Sejumlah pengguna telah telah tertipu dan menjadi korban. Salah satunya adalah seorang pengguna asal London bernama Claire Coldwel.


Sumber : Liputan 6

Terbongkar, Modus Canggih Mencontek Massal 2.440 Siswa



Liputan6.com, Beijing - Mencontek terlanjur jadi kebiasaan siswa, di mana pun. Modusnya pun makin canggih, bahkan memanfaatkan kemajuan teknologi. Sejumlah 2.440 siswa China yang ikut dalam ujian nasional kepergok menggunakan alat mutakhir -- seperti yang ada dalam film mata-mata, demi lulus meski dengan cara tak halal.

Menurut kantor berita Tiongkok, modus yang digunakan para pencontek bukan dengan menuliskan rumus-rumus di baju dan lokasi tersembunyi lain. Bukan pula dengan lempar kertas berisi jawaban atau menggunakan kode-kode tertentu: kedipan mata, atau isyarat tangan, atau ketukan.
Mereka menggunakan sinyal radio 'abnormal' yang digunakan untuk mengirimkan jawaban kepada para kandidat, yang mengenakan peralatan nirkabel di telinga atau memasang alat tertentu di penghapus elektronik yang diletakkan di meja -- sebagai penerima.
Modus canggih tersebut terbongkar pada 18 dan 19 Oktober 2014 lalu. Saat itu lebih dari 25.000 siswa menjalani ujian untuk menjadi apoteker berlisensi di Xian. Tes dilakukan di 7 tempat terpisah.

Penyelenggaran ujian menemukan ada kandidat palsu yang ambil bagian dalam ujian. Bukannya memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin, mereka cepat-cepat keluar setelah menghafalkan pertanyaan ujian. Oknum itu lantas menyiarkan jawaban yang benar, lewat sinyal, untuk para calon yang membayar US$ 330 atau sekitar Rp 4 juta untuk layanan ilegal itu.
Namun, sanksi tegas diterapkan pada para pelanggar. Mereka yang tertangkap basah melakukan kecurangan dalam ujian untuk mendapatkan sertifikat tak bakal diizinkan untuk mengikuti ujian kembali selama 2 tahun. Demikian kata Du Fangshuai, pejabat yang bertanggung jawab menggelar ujian.

Jiang Xueqin, konsultan pendidikan di Beijing mengatakan, sisitem pendidikan di Tiongkok yang berorientasi pada kelulusan siswa saat ujian membuat mencontek terlanjur membudaya.

"Ada banyak modus yang tak mencolok seperti yang ditemukan baru-baru ini. Namun, mencontek menyebar luas karena fokus para siswa adalah mendapatkan sertifikat, bukan keahlian yang sejatinya dibutuhkan saat bekerja," kata dia, seperti dimuat CNN, Selasa (28/10/2014).

Bahkan, orangtua murid pun mendukung tindakan mencontek. Pada 2012, saat aparat mencoba menghentikan aksi curang di kota Zhongxiang, Provinsi Hubei, rusuh pun pecah.

Gara-garanya, para orangtua marah karena anak-anak mereka diperlakukan khusus -- tak boleh mencontek -- padahal semua anak di tempat lain di China melakukan hal yang sama. Memprihatinkan...Bagaimana dengan Indonesia?

Tablet jadi Gerbang Masuk Anak ke Dunia Teknologi

  Tablet jadi Gerbang Masuk Anak ke Dunia Teknologi Samsung kini menyasar pengguna muda, khususnya anak-anak untuk memasarkan tablet mereka

Liputan6.com, Jakarta - Meski pangsa pasarnya tidak seluas smartphone, namun tablet masih menjadi lini bisnis yang diandalkan oleh sejumlah vendor perangkat mobile, salah satunya adalah Samsung.

Menurut Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Selfia Gofar, sejak 2011 hingga 2014, pertumbuhan angka penjualan tablet Samsung masih mampu mencapai 100 persen dari tahun ke tahun.

Namun segmen pasar yang disasar kini disebutkan mulai bergeser. Samsung kini menyasar pengguna muda, khususnya anak-anak untuk memasarkan tablet mereka.

"Tablet itu seperti pintu gerbang untuk anak-anak berkenalan dengan dunia teknologi. Anak-anak mengenal internet, lalu bermain game dan konten teknologi lebih luas lainnya lewat tablet," jelas Selfia saat ditemui tim Tekno Liputan6.com di Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Tak cukup sampai di situ, Samsung juga berusaha mendorong anak-anak untuk tidak saja menjadi pengkonsumsi teknologi, melainkan juga menjadi kreator yang memanfaatkan teknologi.

Perusahaan asal Korea Selatan ini menggelar program Coding dan Pembuatan Aplikasi yang diikuti oleh 30 anak berusia 9-11 tahun dari Sekolah Cikal. Pada program ini anak-anak diajarkan untuk membuat aplikasi dan mengeksplorasi tablet Galaxy Tab 4.
                    Sumber : Liputan 6

Web Counter

data:label.url#sthash.GLqU6doX.dpuf